• Minggu, 17 Oktober 2021

Satgas Anti Rentenir Terima 7.321 Aduan dari Masyarakat Terkait Pinjaman Online

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:31 WIB
Satgas Anti Rentenir Kota Bandung terima aduan dari masyarakat terkait pinjaman online (hms bdg)
Satgas Anti Rentenir Kota Bandung terima aduan dari masyarakat terkait pinjaman online (hms bdg)

FOKUSSATU.ID – Satuan Tugas (Satgas) Anti Rentenir Kota Bandung menerima 7.321 pengaduan dari masyarakat sejak 2018 hingga Oktober 2021. Pengaduan tersebut terkait warga yang merasa jadi korban rentenir atas utang yang dipinjamnya.

Ketua Umum Satgas Anti Rentenir, Atet Dedi Handiman mengungkapkan, hasil analisa dari pengaduan tersebut, sekitar 6 persen meminjam untuk dana pendidikan, berobat (3 persen), usaha (49 persen), kebutuhan konsumtif (2 persen), dan biaya hidup sehari-hari (33 persen).

"Karena itu, dalam Keputusan Walikota, Satgas melibatkan OPD untuk tindak lanjut. Misalnya di pendidikan itu ada akses pendidikan gratis oleh Dinas Pendidikan. Warga yang berobat ke Dinas Kesehatan," ungkap Atet saat Program Bandung Menjawab di Auditorium Rosada Balai Kota Bandung, Kamis 14 Oktober 2021.

Baca Juga: Diskar PB Kuatkan Mitigasi Bencana di Lingkungan Masyarakat

Menurut Atet, dari jumlah 7.321 orang yang merasa menjadi korban tersebut, yang mendapat akses dari pinjaman online (pinjol) sekitar 4.000an. Sedangkan sisanya dari rentenir perorangan atau yang berkedok koperasi dan ilegal.

"Kebanyakan ternyata koperasi-koperasi yang berpraktek sebagai rentenir itu bukan Koperasi kota Bandung, dari luar kota. Jadi kita untuk melakukan tindakan yuridis sesuai dengan perkoperasian yang menjadi kewenangan dinas itu agak sulit," katanya.

"Tapi kemarin ada 16 koperasi di kota Bandung tapi tingkah lakunya, contoh  Koperasi itu tidak boleh mencari nasabah untuk pinjaman, nasabah Koperasi itu harus ada RAT (Rapat Anggota Tahunan) dulu. Kalau koperasi sudah mencari nasabah untuk siapa yang mau membutuhkan dana itu indikasinya sudah berpraktek rentenir," lanjutnya.

Atet mengungkapkan untuk pinjol, temuannya sudah cenderung melakukan pemerasan. Dari pinjaman awal yang kecil dengan bunga besar sekitar 10-30 persen.

"Ada yang kita selesaikan, cut off, misal utang si A Rp2 juta, karena bunganya sudah dianggap wajar sekian persen. Dan si peminjam sudah sepakat itu di 'cut off' bahwa utang dia sudah tidak bisa lebih. Mereka menandatangani dan melakukan kesepakatan," katanya.

Halaman:

Editor: Asep Fokussatu

Sumber: Humas Kota Bandung

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Langit Jabar Hari Ini Diprediksi Cerah Berawan

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 10:17 WIB

DLHK Resmi Likuidasi PD Kebersihan Kota Bandung

Jumat, 15 Oktober 2021 | 13:00 WIB

Kota Bandung Kembangkan Program Pertanian Terpadu

Kamis, 14 Oktober 2021 | 15:43 WIB

Laznas DDII Bantu Anak Yatim Terdampak Pandemi

Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:11 WIB

Pemerintah Janji Bakal Reaktivasi Rumah Sakit Sukapura

Selasa, 12 Oktober 2021 | 17:21 WIB
X